Welcome

thanks for visiting this blog. Here, there are all about chemistry. hope you read and enjoy it !

Pembuktian Deterjen yang Baik (1)

Detergent / Detergen / Deterjen banyak sekali macamnya tetapi yang paling menarik bagaimana membuktikan bahwa merk A lebih baik dari merk B. Kami coba tuangkan setengah sendok Detergent / Detergen / Deterjen saat kami demo produk di Bandung. Kami tuangkan air 200 ml dan mulai diaduk dan tampillah bentukan ini.

Tabung A diisi dari Detergent / Detergen / Deterjen dari merk A mengandung banyak filler / pemberat yang tak bisa teraduk sempurna pada air, sedangkan Detergent / Detergen / Deterjen merk B teraduk sempurna. Ini adalah ciri tersendiri bahwa jenis Detergent / Detergen / Deterjen yang ber filler banyak berarti kemampuannya kurang sebagai pembersih seperti merk A (merk yang pasti anda temui dimana-mana dari warung sd hypermart, pastilah ada). Lalu kami tuangkan setengah sendok merk B yang berasal dari pabrik kami

Detergent / Detergen / Deterjen merk A dan B dalam tabung-tabung ini mau kita buktikan ke proses ke 2 adalah melarut kan Betadin ke cairan yang ada di tabung yang lebih kecil kita sebut itu tabung A1 dan tabung B1 kedua tabung diberikan 5 tetes betadin cair dan dilarutkan dengan air putih biasa. Kedua tabung berubah warna nya menjadi warna teh. Dan apa selanjutnya adalah….

Kita tuang sendok persendok cairan dari tabung A ( Detergent / Detergen / Deterjen merk A – merk terkenal + air) ke tabung A1 satu demi satu dan bisa dilihat di videonya disini bahwa setelah sendok air ke 13 barulah air betadin di tabung A1 baru jernih

Bagaimana dengan tabung B yang mengandung Detergent / Detergen / Deterjen merk B + air hanya dengan satu , dua sendok saja air betadin di tabung B1 menjadi jernih. Videonya bisa dilihat disini

Jelas sekali bahwa merk B jauh lebih baik dari merk A

Merk A adalah merk terkenal dan dimana-mana anda bisa ditemukan, berfiller banyak dan daya larut nya sedikit

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Minuman Keras (Bagian I)

Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktifdan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.

Asal Usul Bir (Minuman Beralkohol / Miras)

Tidak jelas benar dari mana kata bir berasal. Namun proses pembuatannya sendiri sudah ditemukan sejak lama. Sebuah prasasti yang ditemukan di delta subur antara sungai Eufrat dan sungai Tigris di kawasan Mesopotamia (sekarang kawasan irak) dan diperkirakan berasal dari masa sekitar 6.000 SM, sudah memuat gambaran tentang proses pembuatan bir. Sebuah relief yang terdapat di makam kuno di Mesir dari masa sekitar 2.400 SM juga menggambarkan proses pembuatan bir dengan bahan "barley" (barli), yaitu semacam rumput yang bijinya bisa diolah menjadi bir. Sejarah selanjutnya menapak pada tahun 2.000 SM ketika Raja Hammurabi dari Babylonia merilis resep tentang cara pembuatan dan penyajian bir. Di Mesir sendiri, sang Fir'aun (pharaoh) juga terkenal sebagai ahli pembuat minuman hasil fermentasi ini.

Menurut Ensiklopesia Britanica, seorang sejarawan dari Pliny dan Tacticus mencatat bahwa bangsa dari suku Saxon, Celt, Nordic dan Germanic sudah menkonsumsi sejenis bir tak berwarna (disebut ale). Istilah ini juga berkembang diantara istilah-istilah lain di kalangan bangsa Anglo-Saxon seperti istilah Malt, Mash, dan Wort.

Pada abad 15, pembuatan bir di Jerman menggunakan teknik fermetasi yang berbeda. Prosesnya dilakukan dengan proses fermentasi dasar, bukan fermentasi di atas bahan bakunya. Bir yang dihasilkan dengan lager (dari bahasa Jerman: Lagern = menyimpan) karena bir pada masa itu dibuat pada musim dingin dan membutuhkan es untuk menyimpannya pada musim panas.

Proses pembuatan bir kemudian berkembang dengan adanya kontrol yang baik menggunakan termometer dan sakarimeter yang bis amengukur kadar gula. Dengan paduan teknologi pembuatan es dan sistem pedinginan, pembuatan bir bisa dilakukan pada musim panas. Tapi cita rasa bir masih juga tak bisa ditentukan, sebab sangat dipengaruhi proses berubahnya gula menjadi alkohol oleh sel ragi. Lalu muncullah Louis Pasteur yang berargumen bahwa walaupun semua jenis sel ragi bisa dimanfaatkan untuk fermentasi, namun tidak semua sel inicocok bagi proses pembuatan bir. Sel-sel yang tertentu saja yang akan menghasilkan cita rasa bir yang tinggi. Proses Pasteurisasi yang ditemukannya juga mampu membuat bir menjadi tahan lama, setelah memanaskan bir hingga 70 derajat celcius agar mikroorganisma tidak aktif. Berbagai teknologi yang kemudian ditemukan juga membuat bir yang dihasilkan menjadi seperti yang kita kenal saat ini.

Proses Pembuatan Bir

Proses pembuatan bir sebenarnya sederhana saja. Prinsip yang digunakan sama seperti pembuatan minuman keras buatan lokal Indonesia, atau seperti pembuatan tape ketan, yaitu dengan memanfaatkan proses fermentasi. Bulir gandum (atau sejenisnya) dibiarkan tumbuh berkecambah, kemudian dikeringkan. Proses penumbuhan kecambah ini akan menghasilkan yang mengandung enzim amilase (yang mampu mengubah karbohidrat menjadi gula, seperti air liur di dalam mulut kita) yang terdiri dari alpha amilase dan beta amilase. Kemudian, Malt ini (bulir gandum berkecambah) dihancurkan dan dicampur dengan air panas atau direbus selama 1 - 2 jam.Setelah menjadi cairan gula, ditambahkan dengan buah hop (yang memberikan rasa pahit). Setelah itu ditambahkan ragi. Di sinilah proses fermentasi dimulai dengan mendiamkannya selama satu hingga tiga minggu. Gula akan menjadi alkohol dan gas karbondioksida. Setelah itu didinginkan, diperas dan disaring. Maka jadilah bir. Itu sebabnya, bir terkadang disebut sebagai roti cair, sebab bahan dasar pembuatnya memang berasal dari bahan yang sama, yaitu bulir gandum.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Golongan psikotropika

Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan digolongkan menjadi4 golongan, yaitu:

  1. Psikotropika golongan I : yaitu psikotropika yang tidak digunakan untuk tujuan pengobatan dengan potensi ketergantungan yang sangat kuat
  2. Psikotropika golongan II : yaitu psikotropika yang berkhasiat terapi tetapi dapat menimbulkan ketergantungan.
  3. Psikotropika golongan III : yaitu psikotropika dengan efek ketergantungannya sedang dari kelompok hipnotik sedatif.
  4. Psikotropika golongan IV : yaitu psikotropika yang efek ketergantungannya ringan.

Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang pemberantasan peredaran narkotika dan psikotropika, tahun 1988 tersebut maka psikotropika dapat digolongkan sebagai berikut : (didahului dengan nama International dan nama kimia diletakkan dalam tanda kurung)

Psikotropika golongan I

  • Broloamfetamine atau DOB ((±)-4-bromo-2,5-dimethoxy-alpha-methylphenethylamine)
  • Cathinone ((x)-(S)-2-aminopropiophenone)
  • DET (3-[2-(diethylamino)ethyl]indole)
  • DMA ( (±)-2,5-dimethoxy-alpha-methylphenethylamine )
  • DMHP ( 3-(1,2-dimethylheptyl)-7,8,9,10-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-6H- dibenzo[b,d]pyran-1-olo )
  • DMT ( 3-[2-(dimethylamino)ethyl]indole)
  • DOET ( (±)-4-ethyl-2,5-dimethoxy-alpha-phenethylamine)
  • Eticyclidine - PCE ( N-ethyl-1-phenylcyclohexylamine )
  • Etrytamine ( 3-(2-aminobutyl)indole )
  • Lysergide - LSD, LSD-25 (9,10-didehydro-N,N-diethyl-6-methylergoline-8beta-carboxamide)
  • MDMA ((±)-N,alpha-dimethyl-3,4-(methylene-dioxy)phenethylamine)
  • Mescaline (3,4,5-trimethoxyphenethylamine)
  • Methcathinone ( 2-(methylamino)-1-phenylpropan-1-one )
  • 4-methylaminorex ( (±)-cis-2-amino-4-methyl-5-phenyl-2-oxazoline )
  • MMDA (2-methoxy-alpha-methyl-4,5-(methylenedioxy)phenethylamine)
  • N-ethyl MDA ((±)-N-ethyl-alpha-methyl-3,4-(methylenedioxy)phenethylamine)
  • N-hydroxy MDA ((±)-N-[alpha-methyl-3,4-(methylenedioxy)phenethyl]hydroxylamine)
  • Parahexyl (3-hexyl-7,8,9,10-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-6H-dibenzo[b,d]pyran-1-ol)
  • PMA (p-methoxy-alpha-methylphenethylamine)
  • Psilocine, psilotsin (3-[2-(dimethylamino)ethyl] indol-4-ol)
  • Psilocybine (3-[2-(dimethylamino)ethyl]indol-4-yl dihydrogen phosphate)
  • Rolicyclidine - PHP,PCPY ( 1-(1-phenylcyclohexyl)pyrrolidine )
  • STP, DOM (2,5-dimethoxy-alpha,4-dimethylphenethylamine)
  • Tenamfetamine - MDA (alpha-methyl-3,4-(methylenedioxy)phenethylamine)
  • Tenocyclidine - TCP (1-[1-(2-thienyl)cyclohexyl]piperidine)
  • Tetrahydrocannabinol
  • TMA ((±)-3,4,5-trimethoxy-alpha-methylphenethylamine)


Psikotropika golongan II

  • Amphetamine ((±)-alpha-methylphenethylamine)
  • Dexamphetamine ((+)-alpha-methylphenethylamine)
  • Fenetylline (7-[2-[(alpha-methylphenethyl)amino] ethyl]theophylline)
  • Levamphetamine ((x)-(R)-alpha-methylphenethylamine)
  • Levomethampheta-mine ((x)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
  • Mecloqualone (3-(o-chlorophenyl)-2-methyl-4(3H)- quinazolinone)
  • Methamphetamine ((+)-(S)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
  • Methamphetamineracemate ((±)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
  • Methaqualone (2-methyl-3-o-tolyl-4(3H)-quinazolinone)
  • Methylphenidate (Methyl alpha-phenyl-2-piperidineacetate)
  • Phencyclidine - PCP (1-(1-phenylcyclohexyl)piperidine)
  • Phenmetrazine (3-methyl-2-phenylmorpholine)
  • Secobarbital (5-allyl-5-(1-methylbutyl)barbituric acid)
  • Dronabinol atau delta-9-tetrahydro-cannabinol ((6aR,10aR)-6a,7,8,10a-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-3-pentyl-6H- dibenzo[b,d]pyran-1-ol)
  • Zipeprol (alpha-(alpha-methoxybenzyl)-4-(beta-methoxyphenethyl)-1-piperazineethanol)


Psikotropika golongan III

  • Amobarbital (5-ethyl-5-isopentylbarbituric acid)
  • Buprenorphine (2l-cyclopropyl-7-alpha-[(S)-1-hydroxy-1,2,2-trimethylpropyl]-6,14- endo-ethano-6,7,8,14-tetrahydrooripavine)
  • Butalbital (5-allyl-5-isobutylbarbituric acid)
  • Cathine / norpseudo-ephedrine ((+)-(R)-alpha-[(R)-1-aminoethyl]benzyl alcohol)
  • Cyclobarbital (5-(1-cyclohexen-1-yl)-5-ethylbarbituric acid)
  • Flunitrazepam (5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-1-methyl-7-nitro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
  • Glutethimide (2-ethyl-2-phenylglutarimide)
  • Pentazocine ((2R*,6R*,11R*)-1,2,3,4,5,6-hexahydro-6,11-dimethyl-3-(3-methyl-2-butenyl)-2,6-methano-3-benzazocin-8-ol)
  • Pentobarbital (5-ethyl-5-(1-methylbutyl)barbituric acid)


Psikotropika golongan IV

  • Allobarbital (5,5-diallylbarbituric acid)
  • Alprazolam (8-chloro-1-methyl-6-phenyl-4H-s-triazolo[4,3-a][1,4]benzodiazepine)
  • Amfepramone (diethylpropion 2-(diethylamino)propiophenone)
  • Aminorex (2-amino-5-phenyl-2-oxazoline)
  • Barbital (5,5-diethylbarbituric acid)
  • Benzfetamine (N-benzyl-N,alpha-dimethylphenethylamine)
  • Bromazepam (7-bromo-1,3-dihydro-5-(2-pyridyl)-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
  • Butobarbital (5-butyl-5-ethylbarbituric acid)
  • Brotizolam (2-bromo-4-(o-chlorophenyl)-9-methyl-6H-thieno[3,2-f]-s-triazolo[4,3-a][1,4]diazepine)
  • Camazepam (7-chloro-1,3-dihydro-3-hydroxy-1-methyl-5-phenyl-2H-1,4 benzodiazepin-2-one dimethylcarbamate (ester))
  • Chlordiazepoxide (7-chloro-2-(methylamino)-5-phenyl-3H-1,4-benzodiazepine-4-oxide)
  • Clobazam (7-chloro-1-methyl-5-phenyl-1H-1,5-benzodiazepine-2,4(3H,5H)-dione)
  • Clonazepam (5-(o-chlorophenyl)-1,3-dihydro-7-nitro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
  • Clorazepate (7-chloro-2,3-dihydro-2-oxo-5-phenyl-1H-1,4-benzodiazepine-3-carboxylic acid)
  • Clotiazepam (5-(o-chlorophenyl)-7-ethyl-1,3-dihydro-1-methyl-2H-thieno [2,3-e] -1,4-diazepin-2-one)
  • Cloxazolam (10-chloro-11b-(o-chlorophenyl)-2,3,7,11b-tetrahydro-oxazolo- [3,2-d][1,4]benzodiazepin-6(5H)-one)
  • Delorazepam (7-chloro-5-(o-chlorophenyl)-1,3-dihydro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
  • Diazepam (7-chloro-1,3-dihydro-1-methyl-5-phenyl-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
  • Estazolam (8-chloro-6-phenyl-4H-s-triazolo[4,3-a][1,4]benzodiazepine)
  • Ethchlorvynol (1-chloro-3-ethyl-1-penten-4-yn-3-ol)
  • Ethinamate (1-ethynylcyclohexanolcarbamate)
  • Ethyl loflazepate (ethyl 7-chloro-5-(o-fluorophenyl)-2,3-dihydro-2-oxo-1H-1,4-benzodiazepine-3-carboxylate)
  • Etil Amfetamine / N-ethylampetamine (N-ethyl-alpha-methylphenethylamine)
  • Fencamfamin (N-ethyl-3-phenyl-2-norborananamine)
  • Fenproporex ((±)-3-[(alpha-methylphenylethyl)amino]propionitrile)
  • Fludiazepam (7-chloro-5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-1-methyl-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
  • Flurazepam (7-chloro-1-[2-(diethylamino)ethyl]-5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
  • Halazepam (7-chloro-1,3-dihydro-5-phenyl-1-(2,2,2-trifluoroethyl)-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
  • Haloxazolam (10-bromo-11b-(o-fluorophenyl)-2,3,7,11b-tetrahydrooxazolo [3,2-d][1,4]benzodiazepin-6(5H)-one)
  • Ketazolam (11-chloro-8,12b-dihydro-2,8-dimethyl-12b-phenyl-4H-[1,3]oxazino[3,2-d][1,4]benzodiazepine-4,7(6H)-dione)
  • Lefetamine - SPA ((x)-N,N-dimethyl-1,2-diphenylethylamine)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Sejarah Narkoba

Sebelum muncul istilah narkoba lama sudah kita mengenal apa yang dinamakan dengan Candu. dalam catatan sejarah kurang lebih tahun 2000 SM di Samaria ditemukan sari bunga opium atau kemudian lebih dikenal dengan nama OPIUM ( Candu = Papavor somniferitum). Bunga ini tumbuh subur didaerah dataran tinggi diatas ketinggian 500 meter diatas permukaan laut. Penyebaran selanjutnya adalah ke daerah India, Cina, dan Wilaya-wilayah Asia lainnya.

Tahun 1806 seorang dokter dari Westphalia bernama friedrich Wilhelim menemukan modifikasi candu yang dicampur amoniak yang dikenal dengan nama Morphin (diambil dari nama dewi mimpi yunani yang bernama Morphius).tahun 1856 waktu pecah perang saudara di Amerika Seriakt, Morphin ini dipergunakan untuk penghilang rasa sakit akibat luka-luka perang.
Tahun 1874 seorang ahli kimia bernama Alder Wright dari London merebus cairan morphin dengan asam anhidrat ( cairan asam yang ada pada sejenis jamur). Campuran ini membawa efek ketika diuji coba pada anjing. Anjing tersebut memberikan reaksi yaitu : tiarap, ketakutan, mengantuk, dan muntah-muntah. Tahun 1898 pabrik obat "BAYER" memproduksi obat tersebut dengan nama HEROIN, sebagai obat resmi penghilang sakit. saat ini Heroin tidak lagi dipakai sebagai obat, hanya Morphin saja. Perkembangan teknologi tak dapat dibendung, sehingga candu tersebut diolah dengan berbagai campuran khusus dan jenisnyapun bertambah banyak seperti Extasy, Putaw, dan sebagainya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Bahan Kimia Pada Plastik


Penggunaan plastik untuk membungkus makanan semakin popular kerana kelebihan yang ada padanya, contohnya tahan lama, teguh dan mudah digunakan, berbanding dengan pembungkus tradisional. Tidak hairanlah jika kita banyak bergantung kepada plastik sebagai satu bahan wajib dalam proses pembungkusan makanan, walaupun kaedah tradisional menggunakan sumber alam lebih murah harganya sehingga kita tidak menyedari bahaya plastik serta komponen-komponen kimia yang terkandung di dalamnya. Walaupun banyak maklumat disebarkan oleh pihak berwajib mengenai kesan kimia yang hadir akibat tindakbalas makanan dalam bahan pembungkusan namun disebabkan terlalu bergantung kepada plastik membuatkan sesetengah pihak, khususnya pengusaha makanan terpaksa mengabaikan kesannya dengan berharap agar bahan yang digunakan oleh mereka selamat.

Kandungan Kimia
Plastik yang dijadikan bahan pembungkus diperbuat daripada pelbagai bahan kimia seperti polietilina, polietilina terefatalat, propilina dan polivinil klorida. Selain itu, sejenis bahan pelembut (plasticizers) turut dimasukkan bagi membolehkan plastik yang hasilkan untuk pembungkusan ini bertekstur licin dan mudah dilentur atau dibentuk dalam pelbagai bentuk yang menarik. Bahan pelembut ini kebanyakannya terdiri daripada kumpulan phthalate. Manakala yang lainnya bergantung kepada jenis plastik, termasuk bahan pelekat yang digunakan dan dakwat untuk menandakan nama pengeluar.

Oleh itu, semua bahan kimia yang hendak digunakan untuk menghasilkan plastik pembungkus itu sendiri secara amnya perlu mendapat pengesahan daripada pihak berwajib sebelum boleh digunakan. Kebenaran untuk menggunakan hanya dapat diperoleh sekiranya bahan kimia yang hendak digunakan ini telah dapat disahkan sebagai selamat dan digunakn pada kadar yang telah ditetapkan. Paling penting, bahan kimia dan kadar penggunaannya tidak boleh mengakibatkan kanser kepada pengguna.


Kesan Yang Dialami
Secara amnya, tiada sebarang masalah dengan plastik pembungkus. Masalah hanya timbul jika plastik pembungkus itu diperbuat daripada PVC. Plastik pembungkus jenis ini didapati mengeluarkan bahan pelembut DEHA ke dalam makanan. Persoalannya, apakah makanan seperti itu dapat membahayakan ataupun tidak? Perkara ini dibangkitkan selepas satu kajian yang dilakukan oleh Pertubuhan Pengguna di Amerika Syarikat pada tahun 1998 mendapati terdapat bahan kimia DEHA di dalam keju yang dibungkus dalam plastik pembungkus yang diperbuat daripada PVC.

Kandungan DEHA yang dikenal pasti itu didapati berada pada kepekatan yang tinggi, iaitu lebih kurang 300,000 kali ganda had yang ditetapkan oleh Pentadbiran Makanan dan Ubat-Ubatan Amerika Syarikat.

Namun sehingga kini kesannya kepada pengguna masih belum dapat dipastikan. Tetapi daripada data kajian yang dijalankan terhadap haiwan, DEHA berupaya merosakkan sistem peranakan dan menghasilkan janin yang cacat, selain mengakibatkan kanser hati walaupun perkara yang sama tidak ditemui pada tikus.

DEHA didapati mempunyai aktiviti yang menyamai sejenis hormon estrogen (dianggap sebagai hormon wanita kerana mampu memberikan sifat-sifat kewanitaan). Namun kesan sebenarnya masih belum diselidiki sepenuhnya. Maklumat yang diperoleh daripada haiwan kajian, walaupun mungkin tidak boleh dikaitkan secara langsung kepada manusia, boleh menjadi satu petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi kepada manusia. Ini adalah langkah pertama dalam usaha kita untuk menentukan sejauh mana phthalates selamat digunakan oleh manusia.


Langkah keselamatan
Walaupun tiada bukti kukuh untuk menghubungkan DEHA dalam makanan dengan gangguan kesihatan, kita perlu berwaspada dan seboleh-bolehnya mengelakkan penggunaannya secara meluas. Beberapa negara, contohnya Britain, telah mengkaji semula perkara ini dan mendapati bahawa masalah ini dapat dikurangkan dengan penggunaan bahan pelembut mengurangkan penyerapan DEHA ke dalam makanan.

Di Eropah, Suruhanjaya Eropah telah menetapkan had kandungan DEHA yang dibenarkan menyerap ke dalam makanan sebanyak 18 bahagian bagi setiap juta bahagian. Makanan yang mengandungi DEHA melebihi paras ini dianggap tidak selamat untuk dimakan. Penetapan had ini dilakukan berdasarkan hasil kajian dan piawaian yang ditetapkan oleh kerajaan Eropah yang menggalakkan penggunaan DEHA dikurangkan sama ada dengan dicampurkan atau digantikan terus dengan bahan pelembut lain.

Sekiranya boleh, anda digalakkan untuk menggunakan plastik pembungkus yang tidak mengandungi bahan pelembut. Ini mungkin sukar kerana kita sebenarnya tidak tahu sejauh mana bahan pelembut digunakan dalam plastik pembungkus. Namun begitu, ada beberapa plastik pembungkus yang dikatakan tidak mengandungi bahan pelembut iaitu plastik pembungkus yang diperbuat daripada polietilina atau bekas plastik yagn digunakan di rumah seperti jenama Tupperware. Satu cara lagi untuk memastikan plastik itu daripada jenis PVC atau tidak, adalah dengan melihat di bawah bekas plastik yang biasanya mempunyai beberapa tanda tulisan seperti berikut:

* EVA kopolimer etilina vinilaserat
* HDPE polietilina ketumpatan tinggi
* PE polietilina
* PET polietilina terefatalat
* PP polipropilina
* p-PVC polivinil klorida yang dirawat dengan bahan pelembut

Selain itu, anda juga boleh menggunakan bahan pembungkus seperti daun pisang yang sudah dibersihkan dan disalai. Namum bahan pembungkus seperti ini biasanya tidak tahan lama dan kurang praktikal, selain sukar didapati.


Tindakbalas Dakwat Berplumbum
Cara penggunaan juga sering menimbulkan masalah. Sebagai contoh, plastik pembungkus yang telah digunakan disimpan dan digunakan semula untuk membungkus makanan. Dalam proses membungkus makanan, pengguna mungkin membalikkan plastik pembungkus supaya bahagian luar akan diletakkan di bahagian dalam. Dalam keadaan ini, makanan mungkin akan bersentuhan dengan label yang mengandungi dakwat berplumbum. Penyimpanan makanan yang berasid lemah seperti buah limau yang sudah dikupas sudah cukup untuk mengeluarkan plumbum (100 mikrogram plumbum dalam masa 10 minit) daripada dakwat. Walaupun kandungan plumbum yang diserap masuk ke dalam makanan mungkin tidaklah begitu tinggi namun sekiranya makanan yang sedemikian dimakan setiap hari, kesannya sudah cukup untuk menjejaskan kesihatan seseorang. Walaupun ini mungkin tidak berlaku kepada orang dewasa, tetapi ia sudah cukup untuk memberikan kesan kepada janin, bayi dan kanak-kanak yang sememangnya diketahui lebih sensitif terhadap pendedahan plumbum pada kepekatan yang rendah. Justeru itu, ibu yagn hamil haruslah berhati-hati dalam perkara ini supaya masalah sedemikian tidak dialami pada janin yang dikandung.

Selain itu, kebanyakan plastik yang dibuat sebelum adanya ketuhar gelombang mikro direka dengan mempunyai ketahanan pada suhu yang tinggi tetapi masih tidak mampu untuk memberi ketahanan yang sewajarnya sekiranya dikenakan suhu dalam ketuhar gelombang mikro yang biasanya antara 400 darjah Fahrenheit hingga 500 darjah Fahrenheit. Justeru itu, pengeuraian akan berlaku sekiranya suhu yang tinggi dikenakan kepada barang plastik berkenaan. Komponen lapisan polietilina terephalate (PET) akan bergerak lebih jauh daripada yang dijangkakan. Keadaan ini akan mengakibatkan berlakunya retakan pada lapisan PET, dan ini membolehkan bahan-bahan pelekat yang terdapat pada bekas plastik berkenaan serta bahan kimia terurai dan menyerap masuk ke dalam makanan. Sekiranya terdapat bahan yang mudah terbakar seperti kertas, keadaan ini akan menghasilkan debu yang dapat memasuki makanan dan mengakibatkan makanan berkenaan kurang sesuai untuk dimakan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Bahan Kimia Pada Rokok

Apakah Anda termasuk orang yang mempunyai kepedulian yang besar dengan masalah kesehatan? Jika ya, maka tulisan ini sangat berguna bagi Anda. Tahukah kita, tanpa kita sadari, lingkungan sekitar kita, termasuk barang-barang kebutuhan sehari-hari yang kita gunakan, dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan tubuh kita. Tanpa sadar kita telah menghirup bahan-bahan kimia berbahaya yang berasal dari benda-benda yang terdapat di tempat tinggal kita. Berikut ini penulis uraikan beberapa bahan kimia berbahaya yang sering terkontaminasi dengan tubuh kita tanpa kita sadari. Meskipun kadar bahan-bahan kimia yang masuk ke udara tersebut belum melebihi ambang batas yang diperbolehkan, namun jika terjadi paparan dalam waktu yang lama dan terus menerus dapat berpengaruh bagi kesehatan kita.

1. Asbes

Asbes merupakan serat mineral silika yang bersifat fleksibel, tahan lama dan tidak mudah terbakar. Asbes banyak digunakan sebagai penghantar listrik dan penghantar panas yang baik. Asbes banyak digunakan sebagai isolator panas dan pada pipa saluran pembuangan limbah rumah tangga, dan bahan material atap rumah. Asbes banyak digunakan dalam bahan-bahan bangunan. Jika ikatan asbes dalam senyawanya lepas, maka serat asbes akan masuk ke udara dan bertahan dalam waktu yang lama.

2. Bioaerosol

Kontaminan biologi seperti virus, bakteri, jamur, lumut , serangga atau serbuk sari tumbuhan. Kontaminan biologi tersebut jika dihembus oleh angin akan masuk ke udara dan mencemari udara bersih.

3. Formaldehid

Formaldehid merupakan aldehid sederhana. Gas formaldehid tidak berwarna dan diemisikan dari bahan-bahan bangunan, industri rumah tangga atau proses pembakaran. Formaldehid juga terdapat pada produk kayu yang dipres, papan, papan dinding, tekstil (seperti pada karpet dan pakaian).

Formaldehid dapat masuk ke udara akibat terjadi pengikisan dan penguapan akibat panas yang tinggi.

4. Bahan-bahan pertikulat

Dalam kehidupan sehari-hari pertikulat dikenal dengan istilah debu yang berterbangan di udara. Partikulat juga bisa ditemui dalam bentuk logam-logam berta yang jika terhirup oleh manusia akan mengakibatkan penyakit.

5. Senyawa organik volatil (Volatil Organic Compound)

Senyawa organik volatil (VOC) mudah menguap pada suhu kamar. VOC sering ditemui dalam bentuk aerosol yang terdapat pada pembersih, cat, vernis, produk-produk kayu yang di-pres, pestisida, dan semir.

6. Karbon monoksida (CO)

Karbon monoksida atau CO adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu dibawah 129oC. Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan fosil dengan udara, berupa gas buangan. Kota besar yang padat lalu lintasnya akan banyak menghasilkan gas CO sehingga kadar CO dalam uadra relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Selain itu dari gas CO dapat pula terbentuk dari proses industri. Secara alamiah gas CO juga dapat terbentuk, walaupun jumlahnya relatif sedikit, seperti gas hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dan lain-lain. Secara umum terbentuk gas CO adalah melalui proses berikut ini :

Pertama, pembakaran bahan bakar fosil.

Kedua, pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbondioksida (CO2) dengan karbon C yang menghasilkan gas CO.

Ketiga, pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen.

Penyebaran gas CO diudara tergantung pada keadaan lingkungan. Untuk daerah perkotaan yang banyak kegiatan industrinya dan lalu lintasnya padat, udaranya sudah banyak tercemar oleh gas CO. Sedangkan daerah pimggiran kota atau desa, cemaran CO diudara relatif sedikit. Ternyata tanah yang masih terbuka dimana belum ada bangunan diatasnya, dapat membantu penyerapan gas CO. Hal ini disebabkan mikroorganisme yang ada didalam tanah mampu menyerap gas CO yang terdapat diudara. Angin dapat mengurangi konsentrasi gas CO pada suatu tempat karena perpindahan ke tempat lain.

Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) :

Hemoglobin + O2 -> O2Hb (oksihemoglobin)

Hemoglobin + CO -> COHb (karboksihemoglobin)

Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman jika waktu kontak hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Pengaruh karbon monoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya. Konsentrasi gas CO disuatu ruang akan naik bila di ruangan itu ada orang yang merokok. Orang yang merokok akan mengeluarkan asap rokok yang mengandung gas CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm yang kemudian menjadi encer sekitar 400-5000 ppm selama dihisap. Konsentrasi gas CO yang tinggi didalam asap rokok menyebabkan kandungan COHb dalam darah orang yang merokok jadi meningkat. Keadaan ini sudah barang tentu sangat membahayakan kesehatan orang yang merokok. Orang yang merokok dalam waktu yang cukup lama (perokok berat) konsentrasi COHb dalam darahnya sekitar 6,9%. Hal inilah yang menyebabkan perokok berat mudah terkena serangan jantung.

Pengaruh konsentrasi gas CO di udara sampai dengan dengan 100 ppm terhadap tanaman hampir tidak ada, khususnya pada tanaman tingkat tinggi. Bila konsentrasi gas CO di udara mencapai 2000 ppm dan waktu kontak lebih dari 24 jam, maka kana mempengaruhi kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas yang ada pada lingkungan terutama yang terdapat pada akar tanaman.

Penurunan kesadaran sehingga terjadi banyak kecelakaan, fungsi sistem kontrol syaraf turun serta fungsi jantung dan paru-paru menurun bahkan dapat menyebabkan kematian. Waktu tinggal CO dalam atmosfer lebih kurang 4 bulan. CO dapat dioksidasi menjadi CO2 dalam atmosfer adalah HO dan HO2 radikal, atau oksigen dan ozon. Mikroorganisme tanah merupakan bahan yang dapat menghilangkan CO dari atmosfer.

Dari penelitian diketahui bahwa udara yang mengandung CO sebesar 120 ppm dapat dihilangkan selama 3 jam dengan cara mengontakkan dengan 2,8 kg tanah (Human, 1971), dengan demikian mikroorganisme dapat pula menghilangkan senyawa CO dari lingkungan, sejauh ini yang berperan aktif adalah jamur penicillium dan Aspergillus.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Bahan Kimia Berbahaya

Secara umum bahan kimia berbahaya dibagi 7 bagian :
1. Bahan kimia mudah meledak
2. Bahan kimia mudah terbakar
3. Bahan kimia beracun
4. Bahan kimia korosif
5. Bahan kimia oksidator : reaktif dan melepaskan oksigen
6. Bahan kimia reaktif : mudah bereaksi dan melepas panas atau
gas, dikarenakan bereaksi dengan air atau asam
7. Bahan kimia radioaktif

Sebanyak 160 negara pada Konvensi Stockholm sepakat memasukkan sembilan bahan kimia ke daftar zat berbahaya yang dapat menewaskan manusia, merusak saraf dan sistem kekebalan tubuh, menyebabkan kanker, dan merusak organ reproduksi serta mengganggu pertumbuhan janin dan anak-anak. Sembilan bhan kimia itu seperti yang dirilis www.unep.org itu antara lain:

  • Alpha hexachlorocyclonehexane

  • Beta hexachlorocyclohexane; Meskipun penggunaan alfa dan beta HCH sebagai insektisida sudah dihapuskan secara bertahap beberapa tahun lalu, tapi bahan kimia itu masih terus diproduksi secara tidak sengaja sebagai buangan dari penggunaan lindane, bahan kimia yang digunakan sebagai insektisida untuk pertanian.

  • Hexabromodiphenyl ether dan heptabromodiphenyl ether

  • Tetrabromodiphenyl ether dan pentabromodiphenyl ether; Varian bromodiphenyl ether merupakan kelompok bahan kimia mengandung bromin yang dapat mencegah pembakaran pada bahan organik. Substansi ini sering digunakan sebagai zat tambahan pada alat pemadam api.

  • Chlordecone; merupakan senyawa organik yang yang digunakan untuk pestisida pertanian

  • Hexabromobiphenyl; merupakan bahan kimia industrial yang digunakan sebagai pemadam api. Berdasarkan data yang ada, HBB sudah tidak lagi diproduksi ataupun digunakan

  • Lindane; dulu sering digunakan sebagai insektisida dalam skala yang lebih luas, misalnya untuk perawatan benih dan tanah, penggunaan pupuk foliar, perawatan pohon dan kayu, dan juga untuk melawan bakteri ectoparasite di tubuh hewan atupun manusia.

  • Pentachlorobenzene; digunakan dalam produk-produk PCB, bahan pewarna, pemadam api, dan bahan kimia perantara seperti quintozene. PeCB juga diproduksi secara tidak sengaja selama proses pemanasan atau pembakaran dalam kegitan industri.

  • Perfluorooctane sulfonis acid dan perfluorooctane sulfonyl fluoride; sering ditemukan pada alat elektronik, busa pemadam api, cairan hidrolik, dan industri tekstil.

Pesan yang dibawa dalam konferensi itu sangat jelas yakni tanpa adanya usaha utuk menjawab tantanga masa depan POP, resiko yang dibawa sejumlah bahan kimia itu akan terus menghantui dan dukungan global untuk meminimalisir dampaknya kepada kesehatan manusia dan lingkungan juga akan gagal.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments